Warga Muslim di Kabupaten Buleleng punya tradisi unik dalam merayakan Idul Fitri pada hari Minggu, 19 Agustus 2012 kemarin. Adalah Kampung Singaraja tepatnya di sebelah timur Pasar Buleleng  yang berdampingan pula dengan Puri Raja Buleleng.

Sekitar tahun 1725 masehi  ketika itu I Gusti Panji Sakti sebagai Raja Buleleng memberikan hadiah berupa tanah bertempat sebelah selatan Puri kepada Patih Nurul Mubin beserta pengikutnya yang telah berjasa dan mengabdi kepada Raja Buleleng, kemudian berkembanglah menjadi komunitas muslim hingga sekarang.
Pada perayaan Idul Fitri, seluruh warga sejak pagi-pagi sudah datang ke Masjid Nurrahman. Mereka tampak khusyuk menunaikan salat Ied. Seperti biasa, usai salat Ied kemudian diisi dengan ceramah yang disampaikan oleh Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Buleleng, H. Abdurrahman Said, LC. Menariknya, ceramah ini disampaikan dengan bahasa campuran Indonesia dan Bali.

Usai shalat dan mendengarkan ceramah, warga duduk berjejer saling berhadapan. Saat bersamaan, takmir masjid tampak sibuk menghidangkan makanan untuk warganya. Hidangannya mulai dari nasi kuning, nasi putih, lengkap dengan lauk seperti ayam panggang, kare ayam, opor ayam, dan hidangan khas Lebaran lainnya yang disajikan dalam satu talam besar dan disantap untuk 4 orang. Tidak ketinggalan buah-buahan juga dihidangkan dalam satu wadah. Sekitar 50-an talam hidangan makanan telah tersedia yang merupakan sekedah setiap kepala keluarga untuk disantap bersama-sama warga yang lain. “Ini memang sudah menjadi  tradisi Megibung. Megibung itu sendiri merupakan salah satu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh warga untuk duduk bersama saling berbagi satu sama lain yang dijalankan di kampung ini. Setelah hidangan siap, pak Ustadz akan memanjatkan doa ayat-ayat suci Al Qur'an sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT.

Agak beda dengan tradisi magibung di Karangasem. Bedanya, warga kami menyantap makanan secara bersama menggunakan piring. Sementara jika di Karangasem, warga menyantap makanan tanpa piring, melainkan makanan untuk satu talam disantap menggunakan tangan”. Ujar Agus Murjani selaku Lurah Kampung Singaraja.
Megibung sudah menjadi tradisi turun-temurun yang digelar setiap hari raya Idul Fitri. Tidak diketahui secara persis mulai tahun berapa para leluhurnya yang melaksanakan tradisi magibung layaknya tradisi di Karangasem. Meski demikian diperkirakan tradisi Megibung mulai dijalankan sejak berdirinya Masjid Nurrahman tahun 1335 H. "Kami tidak tahu mulai tahun berapa. Yang jelas dari cerita leluhur kami sejak masjid dibangun sudah ada tradisi ini setiap perayaan Idul Fitri dan sampai sekarang kami tetap menggelar tradisi ini," ucap Ketua Takmir Masjid Nurrahman, Mohamad Zen Usman.

Tradisi Megibung tujuannya sebagai bentuk kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi warga yang tidak membedakan status sosial. Buktinya, seluruh warga bersama-sama menikmati hidangan yang sudah dikumpulkan secara ikhlas oleh seluruh warga. "Tidak saja kepada warga Muslim tetapi tradisi ini untuk menjaga rasa kebersamaan dan silaturahmi antara warga bukan Muslim. Kami makan bersama menggunakan tangan dan benar-benar tidak membedakan status sosial, pejabat atau warga bisa berbaur menjadi satu dalam suasana kekeluargaan", jelas H. Abdurrahman Said, LC.

Sumber : Blog Kelurahan Kampung Singaraja 


Baca Juga : 

                  

 

ilmukujugailmukalian Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger